Pacar Hilang Hidayah Datang

Tadi malam sebelum keluar kantor, iseng iseng buka group menulis #AlumniKPM, ada tawaran menarik, membuat cerita berantai, adrenalin terasa terbakar, setelah sekian lama tidak menulis, alhamdulillah hasilnya lumayan bisa bikin senyum senyum…semoga ini jadi momentum,

Jika kita menulis dari hati, dengan siapapun engkau merangkai kata, saat itulah terjalin ikatan persaudaraan yang tidak pernah kita duga dari mana arahnya

so … this is the story of PACAR HILANG HIDAYAH DATANG (creat by alumni KPM):

“Nak, kamu harus pulang sekarang!” cuma sepenggal kalimat itu yang diucapkan oleh ibu dari ujung telepon.

Aku sudah berusaha menghubungi lagi. Tapi tidak sekali pun yang tersambung.

Tidak biasanya ibu bicara seperti ini. Aku mulai bertanya-tanya. Hatiku semakin cemas saja. Ada apa gerangan?

Sementara hari telah larut malam, aku lekas bergegas pulang. Suara ibu di ujung telepon sana membuatku merasa cemas. Ku tinggalkan segala urusanku di markas, dan handphoneku kembali bergetar. Ibu kembali menghubungi, ku pinggirkan sepeda motorku dan ku angkat teleponnya.

“Ibu, ada apa? Maaf aku baru mau pulang.”

Namun, ia bergeming tanpa suara. Sunyi dan tak tau apa yg terjadi. Ada apa dengan ibu di sana?

Aku semakin khawatir, tak biasanya ibu seperti ini. Tiba-tiba memintaku pulang

Disela fikiranku yg mencemaskan ibu, tiba tiba ada klakson mobil dari arah sebrang yg cukup membuatku panik

Kulihat keadaan sekitar memastikan ada ada gerangan? aku berusaha tetap waspada. namun aku berusaha agar tetap tenang saat keadaan sekitar mulai tak bersahabat.

Tak berapa lama alhamdulillah akhirnya gerbang komplek rumahku sudah terlihat, disambut senyuman bapak satpam yg bersahabat, hatiku agak terhibur

Kulihat hp berharap ibu memberi kabar, namun hanya senyuman manis dari photonya yg tampak di layar

Serasa batin terjawab, nama ibu tiba tiba memanggilku, “Hallo? assalammualaikum bu, ibu baik2 aja?” cemasku tak sabar mendengar suara ibu.

“Alahamdulillah nak, ibu baik baik aja” jawaban ibu seketika melemaskan otot ototku yg tegang, ibu sangat merindukan aku untuk segera pulang karena ada sesuatu hal yang harus dibicarakan, ini menyangkut masa depan, menyangkut hati yang sempat kupendam.

Kubaringkan tubuhku setelah ibu menutup telp diujung sana, ingatan membawaku ke masa lalu, ditempat aku dibesarkan, ditempat yg sama ada seseorang yg kutitipkan harapan.

Seseorang yg sedang entah dimana dia sekarang, aku yg selalu menunggu kabar darinyapun selalu ceritakan pada ibuku.

Cinthya, andai saja kamu mau bersabar lebih lama menungguku, istana masa depan sedang kusiapkan, gumamku seraya melepaskan kepenatan. Kukira hati ini tidak akan terasa nyeri lagi … namun setiap kuberniat pulang ke rumah pasti hal itu yg pertama kuingat.

Mungkin itu semua sudah menjadi masa lalu. Tapi sampai sekarang, aku belum mampu mengusirmu dari ruang hatiku.

(keesokan harinya)

Suara azan berbisik ditelingaku namun udara dingin lebih menggelitik seolah merayuku untuk tidak terusik.

Hari ini kuputuskan membuka lembaran baru, Cinthya adalah masa lalu, sedikit kubangkitkan semangatku setelah berhasil mengusir kegelisahan yang dimanjakan oleh cuaca yg menggoda, seolah olah menahanku untuk tidak pergi ke rumah Ibu.

aku paksakan langkah kakiku ini untuk berusaha melangkah ke rumah ibu. aku ingin setiap pagiku mendapat ridhonya sekedar bersalam dan mencium keningnya adalah sebuah hal sakral yang tak ingin aku lewat kan, semoga ibu sedang ada dirumah.

Satu hal yang menyenangkan adalah menikmati perjalanan, sengaja aku naik kereta api, berharap menemukan hal lain yang bisa kuselami.

Berbekal buku dan gadget kesayangan, ku yakin tak akan pernah merasa kesepian. Duduk dekat jendela sesekali melihat pemandangan diluar sana, semilir angin segar menyambutku sesekali sinar mentari hangat menyapa kulitku yang sedikit lagi berkeringat.

Aku sedikit tercengang terlihat dari kejauhan, kelihatannya wajah ini tidak lagi asing bagiku, ” apa dia Cinthya” batinku berkata sambil aku mendangak keatas diantara deretan orang yang berdiri dalam gerbong ini..

Degup hatiku semakin kencang, alunan musik yg ditelinga terasa menggema, langkah wanita itu semakin mendekat, gerak geriknya mirip sekali dengan Cinthya, pandangku terhenti saat wanita itu membalas tatapanku, ekspresinya penuh tanda tanya.

ahhhh bayanganku terbang terlalu jauh, ternyata bukan dia. Lalu kemudian ia menyapaku, “mas, kursi disamping mas kosong ya” jari telunjuknya mengarah ke kursi itu… tapi kemudian ada suara benturan hebat dari kereta ini… bugggg

Rasanya rel kereta ada yang patah. Wanita tadi duduk tepat disebelahku. Aku masih menatapnya secara sembunyi, rasanya dia mirip sekali dengan Chitya tapi dia bukan orang yang aku pikirkan.

Beberapa pasang mata memperhatikan kami, ada rasa bangga dihati, mungkin mereka iri karena wanita cantik ini lebih memilih duduk disampingku. Namun kok rasanya ada yg aneh, kenapa mereka semua berdiri? sementara beberapa deret sebelah Cinthya masih belum terisi, kususuri sekeliling memastikan. Astaga!! ternyata persis disebelah kiriku ada seseorang dg tampang urakan mirip pasien Rumah Sakit Jiwa, bagaimana ini, apakah wanita yg mirip Cinthya menyadari? Pada dasarnya walaupun aku terlihat kekar namun urusan orang gila…. aduh mak!! kakiku terlihat sedikit bergetar, menahan rasa takut dan berusaha tegar.

hhmmm gumamku.. sembari menolehkan wajahku kehadapannya lagi

“Kamu Rio ya? bener deh kamu Rio kan? igh tega masa gak inget aku! tadi dari kejauhan aku ragu apa betul itu kamu, tapi memastikan bahwa kamu masih fobia sama orang gila ternyata bener! apa kabar?” OMG! suara itu … bener Cinthya! .. tapi kenapa cara bertemunya seperti ini sih? duh! mana semangat tadi pagi? No Cinthya! But now this is Real Cinthya… aku berusaha tersenyum menyembunyikan kegalauanku.

“Iya aku Rio ” sahut ku, “oh kamu benar Cinthya” sambungku, sambil menyodorkan tanganku dan bersalam dengannya, tapi    ternyata dia sudah berubah . Langsung saja dia menyapaku dengan salam dan tangannya pun tak menjabatku tapi dia menepuk kedua tangannya dan menundukkan kepala. lalu aku melanjutkan obrolanku dengannya…

“Kamu ga banyak berubah ya Yo, ini pasti mau ke rumah ibu deh! gitu dong banyak2 tengok ibu, jangan keasikan di kota” senyum Cinthya diakhir kalimatnya membuatku tak mampu berkata-kata. Rasa haus mendera, menjadi alasan untuk mencairkan keadaan.

Aku dengan malu-malu mengajak Cinthya pindah ke bangku depan, dalam hati sambil deg-degan semoga kemejaku tidak ditarik oleh seseorang yg menakutkan …  Cinthya tertawa, wajahnya terlihat puas, “he he maaf maaf Rio, aku ga maksud nertawain kamu! tapi tuh ya tadi aku rasanya bunuh diri memberanikan mendekati kamu yg lagi asik baca buku, padahal smua orang memandang kamu kok yaa berani duduk deket orang gila! hehe ” Cinthya menuturi langkahku sambil masih mrnahan tawa.

Apakah ini yang dikatakan cinta? ada rasa sakit hati tapi lupa sekejap ketika berjumpa.

Langkah kaki ku yg harus lebih waspada krn gerbong ini terbilang penuh. aku dan thya pun berjalan dengan penu kehati hatian dan sambil mengucap kata kata sihir “permisi” maka seketika jalanpun terbuka lebar. disini aku merasakan bah pangeran dan putri yg sedang berjalan menuju singgasana..

Lagi-lagi aku mudah terbawa suasana, pantas saja semua teman bilang kalau aku pantasnya jadi pujangga, perawakanku tinggi wajah mirip penyanyi, tapi isi hati siapa yang bisa terka… kalau kata paman, melownya kaya Bang Roma.

Ya sudah lah, Cinthya memang sudah dihadapan tapi sebentar lagi akan ada cincin yang melingkar ditangan, sesuai kabar Ibu, Cinthya akan menikah dan ada yang harus diluruskan terkait batalnya perjanjian.

Kita memang pernah tunangan, sebelum aku memutuskan utk menerima kerja di kota meraih masa depan.

Dan sekarang kita berdua disini berada didalam gerbong kereta yang sama tetapi hati sudah berbeda.

“Hey Thya kamu mau minum apa ” tawarku, sekaligus menyembunyikan segala rasa agar bias dan sirna, juga memecah kesunyian antara aku dengannya.

“aku jus alvokat aja Yo, tolong ya ” hanya menjawab dengan wajah lesu dan menatap kearah luar jendela gerbong ini.

aku pun segera memesan minuman pesanannya, ya ternyata masih sama minumannya seperti dulu number one favorite, ah masih ingat saja aku ini.

lalu aku kembali duduk disampingnya, ” hey kenapa kamu ? terlihat lesu seperti itu ?… akupun ikut menatap keluar jendela, mungkin saja aku menangkap apa yang ada dalm pikirannya.

Cinthya menarik nafas panjang, biasanya kalau dia begitu ada sesuatu yang ingin disampaikan. Aku penasaran, “Kenapa? ceria dong! bulan depan kamu sudah mulai lembar yg baru”

Cinthya dengan santun bertanya “Apakah aku begitu menyakitkan hatimu Yo?” Hari ini aku sama sekali tidak menduga bisa berjumpa, aku kira tidak akan ada kesempatan lagi untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Entah kekuatan apa yang merasuki jiwa, dengan penuh sabar aku menyimak pengakuan Cinthya, saat ini dia sudah berhijrah, bukan lagi masanya untuk pacaran tapi ta’arufan.

Baru aku menyadari ternyata kesempatan itu pernah dia tawarkan ketika Cinthya mulai mendalami lagi tauhidnya, namun aku lalai dan terlalu sibuk, perkembangam Cinthya ternyata sudah maju satu langkah kedepan.

Kenapa harus sakit hati? kalau tidak ada yang mengkhianati? Baru terjawab setelah semua terungkap, inikah takdir? sambil merenungkan kata-kata Cinthya pada pertemuan terakhir.

Serangkai Tiga Hati

Jakarta 2012,

Pagi hari yang cerah, sinar mentari hangat menerpa wajah. Di sisi jalan dalam mobil mewah terlihat eksekutif  muda, berdasi namun wajah serius dan dahi berkerut, tersirat rasa kesal setengah mati. Sementara di dalam angkutan ini ada yang mengangguk-anggukan kepala mengikuti beats lagu pas ditelinga tak perduli macet berapa lama, ada juga yang tertidur pulas pasrah anggap tak kenal siapa-siapa karena dengan begitu mulut bebas menganga, “hmm.. itulah kondisi menjemput rejeki di Jakarta”, bisik Viona dalam hati, pandangannya kemudian terhenti melihat wanita muda yang sedang asik dengan gadgetnya update  sosialita. Mendapat  ide segar, Viona langsung mengeluarkan mini tab dari dalam tas nya, mencari berita terbaru di dunia maya sambil mengikuti lajunya transjakarta.

“Triiing… you’re recently tagged in Windi’s foto album” senyum Viona mengembang, wajahnya ceria membuka album foto kenangan tahun lalu berbuka puasa bersama. “Hii.. bagaimana kabarnya kalian sekarang?” sapa Viona mengomentari foto tersebut. Sesekali dia menoleh ke  jendela memastikan keadaan jalan dan berharap perjalanan masih lama. Kerinduannya sangat dalam membuat dia ingin membuka semua foto sambil berharap Windi segera menjawab komentarnya. “Aku baik sayang, hari Rabu depan mungkin aku ke Kemang, ada set lokasi disana” jawab Windi lima menit kemudian. “Waaah bagus lah, untung aku lagi gak padet jadi kita bisa ketemuan and maksi bareng yaaa” sambut Viona senang, “hmm sayang Aneke sudah pindah ke luar kota.. jadi tidak bisa ketemu bertiga”, gumam Viona dalam hati dengan pandangan menerawang senyum penuh kenangan.

Kemang 2002, Gedung berlantai 3 dalam komplek perkantoran yang asri.

“Hi, loe Vion kan? gue titip tas yaa disini, ada jadwal nih.. sekalian ini titip juga cemilan gue, gak boleh dibawa ke studio soalnya,  rugi kan kalo disita si bos, mending buat loe aja deh..kalau mau ambil aja ya !” “merepet ga kasih kesempatan orang lain berbicara, aneh tuh cewek gak ngenalin nama, basa-basi kek.. ga enak lah setidaknya lom kenal, nah ini nitipin tas, emang ga pake nunggu apaa..!, lom lagi dia gak nyadar kalau gue tuh kan content editor, yaa ruang editing juga gak boleh ada makanan kalie!” gerutu Viona curhat pada Aneke saat makan siang bareng di kantin depan kantornya. “Eh loe kok senyum-senyum aja gitu.. eeiit jangan bilang cewek itu temen loe? ya? bener ya?” sambil menyuap mie ayam kesukaannya Viona tersadar melihat wajah Aneke yang senyumnya penuh arti. “Hehehe makanya nanya dulu jangan ngomel-ngomel gak jelas, namanya Windi, dia anak studio, gue juga kenal karena dia nyapa duluan dan kebetulan temen-temen dia tuh kenal juga sama gue. “Loe kan tahu, gue tuh pintu pertama terima job, jadi ribet dong kalau ada tamu si Windi nongkrong di tempat gue,ya udah gue arahin aja dia ke ruangan loe yang mojok adem ayem … santai laah .. malah asik dong nambah temen?” “Yaa iya sih, trus gue gak ditanya dulu gitu ya?” protes Viona sambil manyun, sementara Aneke melihat  jam tangannya hanya menjawab dengan senyuman, kemudian berlalu ke kasir. Terpaksa Viona mengikutinya dari belakang. Sebagai admin yang melayani registrasi klien pertama kali untuk proses pembuatan video klip di agency tempat mereka bekerja,  Aneke termasuk cewek supel yang ramah tentunya,  dan dia satu-satunya temen cewek yang Viona kenal selama dua minggu pertama join di perusahaan tersebut.

Continue reading

Michiko Finding Sakura

Michiko anak yang terlahir dari darah seorang Jepang, expatriat di Indonesia. Tinggal dikawasan elite selatan Jakarta Raya, kesehariannya ditemani ibunda tersayang berdarah sunda.

Kata orang, wanita sunda cantik dan sabar, semoga memang kebanyakan demikian. Ini tidak bermaksud mengangkat suku tertentu ataupun menebalkan anggapan masyarakat yang terlalu memojokan terhadap wanita sunda. Tetapi pada kisah ini bisa terbayang anak yang terlahir dari perpaduan jepang dan sunda, kulit putih, mata sipit, rambut terurai jatuh bersinar, diterpa angin badai sekalipun tidak akan terkoyak, kembali rapih sesuai tatanannya. Cantiknya Michiko sedari kecil sudah terlihat.

Michiko mewarisi darah ayahnya yang pintar, dia cukup cerdik di usianya. Pergaulannya selama di Internasional School membawa dia menjadi gadis cilik yang menguasai 5 bahasa, 6 termasuk bahasa sunda.

Seperti kebanyakan ekspat yang terpaksa nikah di Indonesia demi menunjang kariernya, sang Ayah menjadi seorang mu’alaf yang tekun, entah karena memang sudah paham dan mendapat hidayah atau karena kondisi sudah tua dan sadar akan hitungan usia. Walaupun 25 tahun jarak usia antara ayah dan ibunya, keharmonisan rumah tangga mereka terlihat sempurna dimata keluarga.

Sampai suatu hari Michiko terlihat murung, tidak seperti biasanya, apakah dia sedang sakit?

Pagi itu kubuka gerbang berlogam kuat dan tinggi menjulang, tanpa satpam, kumasuki area yang hening tak menunjukan tanda kehidupan. “Helloww.. anybody home?” Terlihat semua ruang tak teratur, tumpahan coklat yang sudah mengering di ruang bermain, gelas dan piring yang kering karena proses penguapan, gelap, sunyi .. tetapi semakin dalam kuberjalan dalam kemegahan ruangan, sayup terdengar suara tangis.. “heyy.. sayang apa yang kamu lakukan dibawah situ?” kudapati Michiko bersembunyi dibawah tempat tidurnya. Terlihat wajahnya sangat takut dan kesedihan mendalam. “sini sayang..” kuraih dan kudekap dia, kemudian pecah tangisnya.. Penasaran dimana ibunya? ku ajak Michiko menunjukan dimana ibundanya .. belum lagi terlihat, sudah terdengar suara mobil menderu masuk ke areal parkir rumahnya, beats musik terdengar kencang disertai tawa riang dan mesra dua orang yang kasmaran dalam kebisuan.

Degub jantungku seketika melonjak cepat, aku tak menyangka apa yang kulihat jauh dari bayangan. Sejenak panik, aku tidak mau disalahkan karena menyaksiakan gejolak cinta dari dua orang pendosa. Kuberlari kembali ke kamar bersama Michiko, kupeluk erat dia, dan tanpa disadari dia tertidur, pastinya dia sangat lelah menangis ketakutan.

Continue reading

Bagus nya asmara bau kencur.

Orang kalau sudah membahas cinta dari sudut manapun dibahasnya pasti menarik, apalagi buat ABG galau. Ini sedikit kisah yg aku petik dari curhatan seseorang di masa kecil.

Adalah Namira, kelas 2 SMPN disuatu kota kecil Jakarta Raya. Dia naksir berat sama cowok yg jago main musik, Lody, cowok manis agak slengean, tapi jago banget main gitarnya. Apalagi dia tuh aktivis osis. Berbagai upaya Namira tempuh mulai ikut club padus, nari juga osis tapi si Lody tetep aja cuek bebek, semakin hari dia yg baru aja sebulan jadi anak baru disekolah semakin tenar. Banyak cewek-cewek yg tebar pesona sama dia..Tak sedikitpun perhatian Lody untuk Namira.

“Hayyah .. emang cowok dia doang apa di planet ini, biar aja nanti dia pasti nyesel cuekin gue!” Keluh Namira dalam hati. Kalau dilihat Namira lumayan manis dengan peringkat kelas yg selalu diraihnya membuat dia lumayan diperhatikan oleh guru dan teman-temannya. Termasuk Bagus cowok pemalu dan introvert asal bali, satu meja persis dibelakang Namira. Tanpa disadari Bagus menaruh hati pada Namira. “Mira, aku boleh pinjem penghapusmu?, kamu udah ngerjain PR belum?, Miir catatanmu lengkap ga?” Sebatas pertanyaan itu Bagus berani mencari perhatian Namira. Sayangnya si Namira gak peka sampai suatu hari Bagus datang ke rumah Namira bersama dua sahabatnya dengan mengendarai honda civic wonder red yg lg trend di tahun 90 an itu.

“Waduh Ade apee nih bocah tau-tau an dateng ke rumah, eh doi ternyata anak orkay yaa”, “Udah Miir nurut aja, paling doi ajak makan, ajak gue yaa” seru Rani sahabat Namira yg tomboy dan tinggi besar. “Okelah lagian gue tenang kok ada bodyguard culun kek loe” hihi senyumnya menyetujui usulan Rani. Sampailah mereka berlima di restoran AW, yg katanya tempat nongkrong paling keren jaman itu. Gaa sedikitpun Bagus bicara, mulutnya sibuk makan kentang dan kentang.. sampe waktunya pulang Bagus masih aja terdiam dan menyembunyikan wajahnya dibalik topi basketnya .. yg happy yaa Rani, Pieter dan Mikel secara mereka ikutan kenyang dan merasa untung banget jadi sahabat Namira dan Bagus.

Continue reading

Curcol Edisi Brontosaurus

Terinspirasi kalimat ‘percaya ga loe sama cinta kadaluarsa?’ dalam filmnya Raditya Dika -Cinta Brontosaurus, mendadak hati jadi melow apalagi ini malam minggu dan semua biasa aja. Udah top banget deh hari gini status ga jomblo, anak dua, rumah lumayan dilingkungan semi ellite dan kerjaan yaa bisa dibilang ideal laah di usia yg terbilang muda episode 2 🙂

Jam tidur yg berbeda bikin kita ga bisa lewatin segala sesuatunya bersama. Herannya gue ga pernah ngeluh karena tingkat percaya satu sama lain yg begitu besar. Cocok dong dengan idealisme waktu pacaran bahwa pengertian dan kepercayaan nomor satu, sayang udah pasti tapi ga perlu lebay. Yakiin tuh?

Bobey, my lovely honey, beda cuma setengah tahun secara usia tapi hampir lima belas tahun secara fikiran. He he dia idaman sejak dikampus, empat tahun sekelas dan sekarang sudah hidup bersama dalam pinangan hampir sepuluh tahun dan semoga selamanya. Dia sangat profesional sebagai ahli komputer, semua system terprogram dengan baik bahkan dirumahpun di aplikasikan jaringan yang tingkat securitynya bisa dibilang berlapis. Canggih deh sampe sampe curcol apapun pasti ada solusihya. Dia bisa dihubungi saat kita tertidur dan unreachable saat kita terbangun. Entahlah mungkin dengan begitu dia bisa berkarya. Terkadang jadi cewek yg sudah terbiasa menahan ego lumrah aja walaupun sesekali kesel juga..emang urusan bocah bisa dibahas malem hari apa? Sekolahan aja bukanya siang 😦

Continue reading