My Boy Broken Heart

Image

When Dylan felt unhappy

Sabtu siang ada sentuhan tangan mungil menegurku. Dylan Najib, adalah putra kecilku, usia 6 3/4 tahun meluapkan rasa kecewanya melalui surat yang disampaikan dengan penuh rasa kecewa.

Begini kejadiannya, sehari sebelumnya Jum’at libur imlek, Dylan happy sekali karena hari itu dia bisa bebas main game minecraft atau Wizard, menonton serial kesukaannya: The Rabbids, Oscar Oasis, Angus & Charil dan Doraemon, juga baca komiknya doraemon versi special. Saking happy nya Dylan tidak sengaja berucap setelah shalat Dzuhur “Mommy, hari ini kan libur aku seneng banget mau main terus dan baca juga nonton, boleh kan?” Melihat wajahnya yang ceria bersinar seperti mata shinchan mana mungkin bisa menolak, aku yang dipanggil mommy, sebutan yang sudah berganti mulai dari mama, mom, mumi dan sekarang mommy karena efek dari film serial yg mereka suka, mengangguk setuju pada permintaan Dylan, namun karena senin 3 Feb besok dia akan assessment, kuingatkan dengan bertanya kembali “boleh aja sayang, tapi kamu rencana belajarnya kapan? senin assessment lho” karena hatinya kelewat happy dia dengan mudah berjanji sabtu minggu baru belajar, hari ini mah main ajaaaa” dengan wajah tengilnya ..

Sabtu pagi tiba, Dylan setelah shalat subuh tertidur lagi, lamaa sekali karena semalam dia benar benar tidur larut, wajahnya letih, sengaja tidak kubangunkan sampai jam setengah 10 pagi. Seperti biasa kusambut Dylan dengan segelas susu coklat hangat, namun gerakannya reflek dan mengambil laptopnya sambil setengah berlari sehingga menumpahkan susu yang sengaja kubuat dengan sepenuh hati itu, masih suasana terkendali aku tidak memarahinya, dengan sabar kubersihkan semuanya.

15 menit berlalu, kuingatkan Dylan untuk mandi karena waktunya sarapan hampir semu masuk ke waktu makan siang, dia tidak menggubris, malah tetap asik main laptopnya, setengah berteriak kuingatkan kembali “DYLAN NAJIB!” dengar apa yang mommy bilang dong, mandi.. setelah itu kamu kan harus belajar!

Kulihat dari sudut mataku Dylan menutup laptopnya, alhamdulillah nurut… namun ternyata dia berjalan ke kamar mandi sambil menghentak-hentakan kaki, rasa kesal jelas terlihat dari lompatan kakinya. Setelah mandi sudah kusiapkan mie telur rebus kesukaannya, mujarab kekesalan Dylan hilang wajahnya semangat melahap semangkuk mie sampai habis. Setelah makan kupuji dia karena ingat langsung ke lemari buku untuk mulai belajar. Kulanjutkan tugasku yang lainnya mencuci piring dan membersihkan lantai,

Namun apa yang terjadi kemudian, Dylan berlari-lari melewati lantai yang licin dan sreetttt dia hampir saja terjatuh, aku panik dan kumarahi dia, “Dylan! katanya mau belajar kok malah lari-lari gak jelas sih! Bikin mommy repot terus!”, Dylan berlalu sambil setengah cemberut. Kemudian aku beristirahat sejenak sambil menonton rekaman serial “Tiba-tiba Cinta Datang” entah karena suka atau tuntutan kerja, tapi aku penasaran ingin tahu apa yang menarik dari serial ini.

Dylan berlari-lari lagi ke luar, masuk ke kamar mandi mencuci sesuatu, aku menoleh dan sambil lalu bertanya “Dylan ngapain sih?” tahu aku sedang sibuk Dylan cekikian merasa puas lewat dari awasanku. Setelah dari kamar mandi dia pergi ke taman belakang, dan menjemur sesuatu. “hmmm.. mencurigakan” kudekati dia, tahu apa yg dia lakukan? dia mencuci semua pinsilnya termasuk krayon-krayon dengan alasan supaya bersih. “Duh duh.. kok gini sih Dyl?, Mommy heran deh kamu udah baca belum sih buku kamu?” Dylan mematung seolah menggoda emosiku, hmm udah katanya sesaat. “Oke, mommy test ya..”

Kita berdua duduk di ruang tengah, ku test beberapa pertanyaan, dan dia banyak tidak bisa. Mulai deh emosiku terkumpul, “begini ya? katanya janji mau belajar, kalau Dylan seperti ini gimana dong, Mom akan sita laptop Dylan ya..!” Dylan cemberut dan matanya berkaca. Aku kuatkan hatiku dengan maksud konsisten terhadap ucapanku. “Ini mommy kasih soal, Dyan kerjain, sambil Mom mandi dulu”.

Tidak lama setelah aku mandi kulihat dia sudah selesai dan memberikan bukunya padaku dan ternyata dia berhasil menyelesaikannya dengan benar, aku tersenyum, “Good, Dylan pinter!” trus aku berlalu menyiapkan sepeda motorku untuk membeli lauk makan siang, “Dylan memburu sambil merajuk, aku boleh yaa main game?” aku menjawab dengan gengsi, “Yaa gak lah, kamu belum belajar satu pelajaran lagi, Al Izzah, kamu baca yaa bab tentang Asma’ul Husna dan Kalimat Toyyibah”. Seketika Dylan berlari dan membanting pintu kamarnya, aku tidak terima dia bersikap seperti itu, “Dylan mulai lagi deh!” “Pokoknya mommy gak mau tau, kamu harus baca buku itu nanti kita bahas setelah makan siang oke!” perintah mutlak dan tidak boleh dibantah, seruku dalam hati.

Aku pergi membeli makanan dan saat kembali ke rumah, suasana hening, “hmm berhasil sepertinya Dylan sedang belajar sesuai panduanku” ku berjalan menuju meja makan, bolak-balik ke dapur mengambil piring dan saat menata di meja makan aku melihat secarik kertas terlipat seperti surat, dan tertulis “untuk mommy”, tulisannya aku kenal, “pasti dia minta maaf” yakinku dalam hati. Degh, aku lumayan menghela nafas setelah membaca ternyata surat patah hati Dylan, kuingat-ingat apakah aku keterlaluan, ah tidak juga kan dia sudah janji, gumamku. Kuingat lagi sebelum pergi dia menangis dan mengintip dari jendela, sebelumnya aku simpan laptopnya di locker paling atas sehingga dia tidak akan mungkin bisa menggapainya.

Sesederhana itu kejadiannya namun berakibat sangat dalam di hati Dylan. Aku langsung mencari kekamarnya, matanya sudah bengkak, dan dia memalingkan wajah tidak mau melihatku. Tetap dengan sikap sok konsisten aku bertahan, “Dylan gak boleh gitu ah, mommy kan begini mau bantu Dylan supaya bisa ujian, udah baca bukunya belum?” Dylan tidak menjawab. Kutinggal dia dengan harapan memberi waktu supaya dia lebih enak.

Dylan tidak juga keluar kamar, aku tengok ternyata dia tertidur saking letihnya menangis. Aku tutup kamarnya perlahan. Jam 3 sore Dylan terbangun dan langsung meminta turunkan laptopnya. Aku biarkan dan mengajaknya makan siang yang sudah sore. Lagi-lagi dia berulah, makanan dengan sengaja bertebaran, membuat lantai kotor, tangannya yang kotorpun memegang semua gelas, hmm.. sepertinya emosiku mulai memuncak, “Dylan cepetan deh cuci tangan, mommy test ya! ajakku dengan yakin dia tidak akan bisa seperti tadi siang.

Apa yang terjadi, dia hapal dan tau bagaimana menuliskan huruf arabnya asma’ul husna dan kalimat toyyibah yang aku minta dia untuk hapalkan tadi, bahkan dia dengan mudah menjelaskan berikut contoh-contoh aplikasinya. Sesaat wajahku memerah, seperti ditampar halus oleh kelembutan tangannya, aku menyesal tadi setelah membaca surat itu masih bersikap keras, seharusnya aku memeluknya, karena hati nya benar-benar pecah seperti di surat itu.

Tak menunggu egoku muncul lagi aku langsung memeluk erat Dylan dan membisikkan maaf, kulihat dia agak menahan tetapi kemudian dia dengan gaya pria nya mengelus rambutku “yaa mommy sekarang hati Dylan sudah nempel lagi”.. mudahnya dia mengembalikan hatinya, tanpa menunda seperti yang telah kulakukan padanya hari ini.

Menunda perasaan yang seharusnya diungkapkan akan tidak baik dan merugikan.

Terima kasih Dylan, hari ini mommy belajar dari hati Dylan yang besar.

-love you always my boy-

Advertisements

3 thoughts on “My Boy Broken Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s