Serangkai Tiga Hati

Jakarta 2012,

Pagi hari yang cerah, sinar mentari hangat menerpa wajah. Di sisi jalan dalam mobil mewah terlihat eksekutif  muda, berdasi namun wajah serius dan dahi berkerut, tersirat rasa kesal setengah mati. Sementara di dalam angkutan ini ada yang mengangguk-anggukan kepala mengikuti beats lagu pas ditelinga tak perduli macet berapa lama, ada juga yang tertidur pulas pasrah anggap tak kenal siapa-siapa karena dengan begitu mulut bebas menganga, “hmm.. itulah kondisi menjemput rejeki di Jakarta”, bisik Viona dalam hati, pandangannya kemudian terhenti melihat wanita muda yang sedang asik dengan gadgetnya update  sosialita. Mendapat  ide segar, Viona langsung mengeluarkan mini tab dari dalam tas nya, mencari berita terbaru di dunia maya sambil mengikuti lajunya transjakarta.

“Triiing… you’re recently tagged in Windi’s foto album” senyum Viona mengembang, wajahnya ceria membuka album foto kenangan tahun lalu berbuka puasa bersama. “Hii.. bagaimana kabarnya kalian sekarang?” sapa Viona mengomentari foto tersebut. Sesekali dia menoleh ke  jendela memastikan keadaan jalan dan berharap perjalanan masih lama. Kerinduannya sangat dalam membuat dia ingin membuka semua foto sambil berharap Windi segera menjawab komentarnya. “Aku baik sayang, hari Rabu depan mungkin aku ke Kemang, ada set lokasi disana” jawab Windi lima menit kemudian. “Waaah bagus lah, untung aku lagi gak padet jadi kita bisa ketemuan and maksi bareng yaaa” sambut Viona senang, “hmm sayang Aneke sudah pindah ke luar kota.. jadi tidak bisa ketemu bertiga”, gumam Viona dalam hati dengan pandangan menerawang senyum penuh kenangan.

Kemang 2002, Gedung berlantai 3 dalam komplek perkantoran yang asri.

“Hi, loe Vion kan? gue titip tas yaa disini, ada jadwal nih.. sekalian ini titip juga cemilan gue, gak boleh dibawa ke studio soalnya,  rugi kan kalo disita si bos, mending buat loe aja deh..kalau mau ambil aja ya !” “merepet ga kasih kesempatan orang lain berbicara, aneh tuh cewek gak ngenalin nama, basa-basi kek.. ga enak lah setidaknya lom kenal, nah ini nitipin tas, emang ga pake nunggu apaa..!, lom lagi dia gak nyadar kalau gue tuh kan content editor, yaa ruang editing juga gak boleh ada makanan kalie!” gerutu Viona curhat pada Aneke saat makan siang bareng di kantin depan kantornya. “Eh loe kok senyum-senyum aja gitu.. eeiit jangan bilang cewek itu temen loe? ya? bener ya?” sambil menyuap mie ayam kesukaannya Viona tersadar melihat wajah Aneke yang senyumnya penuh arti. “Hehehe makanya nanya dulu jangan ngomel-ngomel gak jelas, namanya Windi, dia anak studio, gue juga kenal karena dia nyapa duluan dan kebetulan temen-temen dia tuh kenal juga sama gue. “Loe kan tahu, gue tuh pintu pertama terima job, jadi ribet dong kalau ada tamu si Windi nongkrong di tempat gue,ya udah gue arahin aja dia ke ruangan loe yang mojok adem ayem … santai laah .. malah asik dong nambah temen?” “Yaa iya sih, trus gue gak ditanya dulu gitu ya?” protes Viona sambil manyun, sementara Aneke melihat  jam tangannya hanya menjawab dengan senyuman, kemudian berlalu ke kasir. Terpaksa Viona mengikutinya dari belakang. Sebagai admin yang melayani registrasi klien pertama kali untuk proses pembuatan video klip di agency tempat mereka bekerja,  Aneke termasuk cewek supel yang ramah tentunya,  dan dia satu-satunya temen cewek yang Viona kenal selama dua minggu pertama join di perusahaan tersebut.

 “ Dibalik Keceriaan Sahabat”

“Udah gitu aja udah bagus, loe jangan adjust warna terlalu banyak, sekarang lagi jamannya agak spooky gituu, coba dong di play dari awal, gue pengen liat hasilnya, boleh kan?” duuuh suara ituuu .. serasa replay terus di telinga Viona. Tanpa melirik ke arah Windi, Viona memutar  video yang sedang di editnya, tetap berusaha sabar dia memenuhi permintaan Windi yang ingin melihat karyanya dari awal. “Waah ternyata kalian disini, yuk makan siang! Waktu gue gak banyak” kehadiran Aneke memecahkan suasana. Mengerti posisi temannya, tanpa menunggu lama Viona dan Windi segera bersiap, kemudian mereka bertiga berjalan menuju kantin, Viona tetap terlihat menjaga jarak dari Windi.

Makanan paling terkenal di perkantoran itu adalah Pecel Ayam Bang Somad. Harga nya pas, rasanya mantap. Siang itu cuaca lumayan terik, dalam tenda terasa sangat panas, tapi tidak demikian buat Windi, style nya lumayan nyentrik dengan jaket yang selalu dipakainya tidak menyebabkan dia lebih panas dari yang lain bahkan dia bisa tetap ceria berceloteh ini itu sambil menyantap lahap seporsi pecel ayam paha kesukaannya.”Loe udah berapa lama sih kerja disini Vion?” Tanya Windi. “hampir tiga minggu” jawab Viona singkat, sesingkat panggilan Windi kepadanya “vion” nanggung banget sih tinggal nambah satu huruf aja heran .. “ gumam Viona dalam hati. “Windi ini ponakannya salah satu produser kita lho!” Aneke menimpali. “Hayyah … ponakan jauh kaliii, jangan percaya Vion!” jelas Windi. Obrolan ketiganya berlangsung mencairkan kekerasan hati Viona dan mulai mengenal Windi yang sosoknya memang ceria, jujur dan terbuka.

Hari-hari berlalu, kebersamaan semakin seru, kehadiran Windi sekarang justru ditunggu oleh Viona. Sementara Aneke yang waktunya terbatas membuat dia sedikit terlewat dalam keakraban dan kebersamaan Viona dan Windi. Sesekali mereka mengganggu telephone Aneke berpura-pura menjadi tamunya, kalau sudah begitu pasti tidak berapa lama Aneke menghampiri ke ruangan Viona kemudian tertawa bersama.

Hal yang paling asik kalau udah kumpul bareng sahabat adalah ngomongin cowok. Baru nyadar ternyata mereka bertiga masih pada jomblo. Aneke memulai cerita, dia terkagum pada seorang pria, kepala bagian marketin. Namanya Omar, sosok pria dewasa, lumayan ganteng dan tebar pesona. Cewek pasti bakal meleleh kalau curhat kita didengerin, dinasehatin, diperhatiin… ya.. itulah yang diarasakan Aneke, wajahnya merona, matanya berbinar terlebih kalau sudah menyebut nama Omar.. segalanya deh.. Sementara Windi lagi incer temen studio nya.. masih pdkt sih.. nah loe sendiri gimana Vion? Serang Windi. “hm.. gimana ya.. gak jelas, gue sebenernya udah punya pacar tapi pacar gue anak baik-baik, jadi gak mau sering-sering ketemu kalau kerjaan belum bagus hasilnya” “Lhooo.. bagus dong!” jawab Windi dan Aneke bersamaan. “iyaa sih, cuma yaa biasa aja gitu lho.. kurang seruuu!!” “wah badung nih anak!” Kata Aneke. Windi nyengir lebar, ngerti yang dirasakan Viona, butuh tantangan, butuh selingan, dan sebelas dua belas lah mirip mirip nakalnya sama Windi.

Seminggu berlalu, semakin sering diobrolin semakin mekar dihati masing-masing. Viona sudah ada kemajuan, berkenalan dengan Doni, sosoknya lebih diam tetapi jago musik, kulit putih, mirip salah satu personil band pop yang terkenal, ramah, supel dan sering menggoda Viona. Sementara Windi sudah jadian sama temen seprofesinya.  Aneke dan Omar semakin dekat, tampaknya mereka adalah dua sosok dewasa yang sudah siap. Warna-warni menghiasi hari, dibuatlah sebuah buku diary bersama, gagasan Aneke yang memang senang menuangkan hati melalui tulisan, siapapun dari ketiganya wajib curhat di buku itu, kemudian buku itu akan bergilir dari ruang Viona  ke tas Windi dan berlabuh di meja Aneke, dan seterusnya. Pekerjaan yang semakin padat tidak menyebabkan  mereka renggang, karena melalui buku diary itu masing-masing bisa tertawa dan menuliskan kisah cintanya .. simulasi networking yang sangat berwarna.

Viona tersenyum senyum sendiri membaca tulisan Aneke yang dituangkan dalam bahasa Inggris, sebagai mantan penyiar radio, Aneke paling update dunia luar dan jago lah kalo cas cis cus.. namun kemudian Viona berubah muram, tersirat empati yang dalam ketika membaca kisah cinta Windi berakhir dalam satu tahun sekian bulan, Rio memutuskan dia karena suku, alasannya Rio sudah mulai ke arah lebih serius, orang tuanya menuntut dia untuk mendapatkan pasangan yang satu suku, Sumatera. “Terlalu klasik dan tidak mandiri!” gumam Viona. Sederhana sih, logikanya baru jadian setahun trus putus, tapi Windi secara nyata terguncangnya bukan main. Viona dan Aneke tidak mengira sedalam itu cinta Windi kepada Rio.

Belakangan diketahui saat Rio pulang kampung, dia menghadiri acara reuni SMA nya, disitulah dia bertemu dengan Dewi, mantan pacar Rio di SMA. Pertemuan yang berkesan dalam membuat cinta Rio dan Dewi  bersemi kembali, padahal saat itu Rio masih bersama Windi. Sayangnya Windi ternyata  sangat percaya akan kesetiaan Rio, bahkan dia mengakui sejauh apa hubungannya dengan Rio. Hal itu membuat Aneke dan Viona larut dalam kesedihan. Aneke tidak bisa berkata apapun, “Beruntung Win, kamu tahu sekarang, ternyata dia bukan laki-laki baik, sabar ya.. semua akan baik-baik aja setelah ini” peluk Viona menghibur dan menguatkan Windi.

Entah dinamakan sehati atau bagaimana, tetapi semua ketidakberuntungan sangat jelas dan nyata. Omar, cowok pujaan Aneke ternyata sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Sementara Doni gebetan Viona tidak pernah menyatakan apapun, walaupun kadang satu sama lain memperlihatkan betapa saling menyukai, mengagumi. Viona yang merasa menghianati pacarnya, tidak mungkin mengungkapkan perasaan kepada Doni, dari awal Viona berharap ada perubahan, datangnya dari Doni dan membuat hidupnya lebih berwarna, tetapi Doni tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Kegalauan menghiasi tiap halaman di buku diary. Tidak ada lagi keceriaan Windi menempati ruang Viona. Aneke yang cukup down menghadapi kenyataan membuat dia sibuk mencari alasan Omar sejelas-jelasnya.

Kebisuan memberikan waktu kepada masing-masing, Viona mulai melupakan harapannya kepada Doni dan semakin mantap meneguhkan hatinya menerima pinangan pacarnya yang sudah berhasil meraih cita-cita sebagai dosen di universitas negeri terbesar di Indonesia. Sembilan bulan kedepan Viona akan melangsungkan pernikahannya. Mendengar status Viona yang semakin mantap, Windi muncul dan mengucapkan selamat sambil menggodanya “Yakiiin loe? Seumur hidup loh bakal ngeliat Pak Dosen he he” “huuu sebel.. gak ada pilihan.. usia gue udah hampir 27 an” … jawab Viona. Tetapi dalam hati Viona senang senyum Windi sudah kembali. “Iiiih senengnya nikah! Mauuu bangeeettt” Aneke muncul depan pintu dan kemudian memeluk Viona. “aih senengya kalian udah bisa ngelewatin masa sulit” Aneke mencubit pinggang Viona,” jangan mulai deehhh…!” ketiganya tertawa “ha ha ha”

Dalam waktu sebulan dari akhir kesedihan Aneke sudah punya gebetan, “namanya Wirya. Fotografer, ganteng walau tidak terlalu tinggi, cool, tidak tebar pesona seperti Omar dan yang bikin penasaran sosoknya misterius”. Aneke menjelaskan, “kehadiran Wirya adalah tantangan baru, susah dideketin banget tuh cowok!” Windi penasaran “yang mana sih, Vion?” “Duuh gue lagi, mana gue tau..ruangan gue aja mojok ginii” jawab Viona. Bukan Windi namanya kalau gak usaha cari tahu. Mulailah Windi melebarkan sayapnya mencoba mencari informasi sebanyak banyaknya tentang Wirya. Aneke yang dari dulu biasanya memang serius, mengharapkan banget informasi dari Windi.

“Gue udah tau banyak siapa Wirya” suara Windi terdengar sambil masuk dan duduk dekat Viona, dia hadir lebih pagi. Wajahnya sudah ceria lagi. “Wirya tuh anak tunggal, anak mami, orang jawa tulen, baru aja putus cinta, ceweknya ninggalin dia nikah sama cowok lain, gue banget ya Vion? He he, dia juga baik kok orangnya, tidak seperti kelihatan dari luarnya”. “Wah hebat loe Win, udah tau aja.. emang loe dapet info dari siapa?” “ya dari orangnya lah…””Widiih.. kok bisa?” Tanya Viona lagi penasaran. “Gue kenalan aja..”jawab Windi. “Hah? sesimple itu?” Kebetulan banget kemaren jadwal gue jadi director video klip nya Pak Wayan, itu loh.. klien nomor satunya babe kita.. Nah, Wirya fotografernya. Ya harus kenalan dong, supaya kerja bisa klop kan..?” senyum Windi lebar menjelaskan.” Trus kenalan sampe tau semua pribadinya gituu? Kok gampangan banget tuh cowok!” komentar Viona. “Eeeeh pake proses lah.. abis kerja makan bareng, tukeran nomor hp, sms an, besoknya kerja lagi makan bareng lagi, eh dia ajak gue nonton he he” Windi menjelaskan dengan wajah merona. “Duh Wind, loe jangan maen api deh..” Viona mengingatkan Windi bahwa Wirya adalah gebetannya Aneke. “ya.. gue tau sih Aneke suka banget sama dia, tapi emang ada yang larang kalo gue juga suka? Awalnya sih gue cuma pengen cari tau aja, tapi ternyata pas udah tau orangnya asik Vion.. dan dia beda dari yang lain.” “Yaa gak etis lah.. masa kita tau temen kita suka trus kita salip, kasin kan..” “Gue gak janji ya Vion, kalau Wirya nya suka sama gue gimana?” “Gak tau ah Wind, yang pasti kita harus baik-baik aja lho!” “he he he.. wajah loe tuh lucu serius gituu kaya Bu Dosen!” “iigh rese loe Wind..geram Viona sambil lempar jaket Windi kearah bangkunya”

Hari Jum’at menjelang weekend, kerjaan Viona untuk deadline editing biasanya padet banget, tidak heran jam 10 malam Viona masih di ruangan kerja, otak-atik alat editnya dan menyusun report. Aneke sudah pulang dua jam yang lalu, setelah dia menghabiskan waktu chatting di PC Office nya Viona. Sambil curhat makin penasaran dia sama sosok Wirya. Bahkan katanya Wirya menyapa Aneke dengan manis. “Hmm.. jadi makin misterius tuh cowok, apa emang dia tebar pesona yaa sama semua cewek di gedung ini, kemaren Windi yang terjerat, hari ini dia beri harapan pada Aneke, heran..” gumam Viona sambil melanjutkan reportnya dia mengingat detil apa yang dibicarakan oleh kedua sahabatnya itu. “Haiii, cewek.. serius beneer” Viona menoleh ke arah suara yang menyapanya… “Lho Wind ngapain kamu malem malem gini masih di kantor?” Tanya Viona heran. “Lha loe ngapain hari gini masih di kantor? Bukan urusin pak Dosen” he he he…” Iigh semprul, ditanya balik nanya..!” dibelakang Windi muncul Wirya. “Oooo ini alasannya..” Viona geleng-geleng kepala. “Kenalin Wir, ini Viona, Vion ini Wirya” Windi memperkenalkan keduanya. “Hi.. saya Wirya” suara nya tegas dan dalam. “Boleh aku shoot ruanganmu ya..” ijin Wirya mengagetkan Viona. “Emang mau ngapain? Jangan aah.. berantakan!” larang Viona. “Dia tuh pemalu Wir.. tapi kalo udah kenal malu-maluin” canda Windi. “Igh loe tuh ya..!” Viona heran dan makin tidak konsen melanjutkan pekerjaannya karena kehadiran Windi dan Wirya.

“Kamu kalau tersenyum manis deh” sapa Wirya kepada Viona dengan membidik kamera ke arah wajahnya. “Eh jangan sembarangan ngomong, Vion udah ada yang punya, bentar lagi dia nikah” jelas Windi antara membela atau cemburu. Dasar perempuan, perlu diakui disapa seperti itu bergetar hatinya, termasuk Viona. “Pantes aja dua sahabatnya begitu terpesona sama Wirya, baru kenal aja sapaannya maut gitu..” Serasa tersihir, Viona memberikan nomor hp nya kepada Wirya saat Wirya memintanya.

Kata orang tua, kalau mau menikah pasti banyak godaannya. Itulah yang terjadi pada Viona. Belum selesai menghilangkan sosok Dion dalam hatinya, muncul Wirya yang berhasil bikin dia ge-er disapa saat disapa manis oleh Wirya. Terlebih dia memberikan harapan dengan meminta tukaran nomor hp. Betul yang dikatakan Windi, Wirya tuh sosok yg bikin lupa deh sama arti persahabatan. Aneke tidak lagi menjadi porsi utama untuk mengingatkan hati tetap terjaga. Sedang asik mendengarkan lagu show nya Krisdayanti, tiba-tiba hp Viona berbunyi, tampak pada layarnya “Wirya calling”. Hah? Seriusan tuh cowok nelp gue?” Penasaran dan bimbang dalam hati Viona, untuk mengangkat atau tidak telp dari Wirya. Sejenak Viona membiarkan telp itu berdering namun penasaran hatinya membesarkan niatnya untuk menerima telp Wirya, “Yes.. ini Viona, kenapa Wir?” Jawab Viona sedatar mungkin. “Akhirnya.. diangkat juga.. galau ya Vion?” suara Wirya terdengar jelas menggoda. “Gila nih cowok, tepat banget nebaknya” “igh sok tau deh..” jawab Viona menutupi. “Vion, kapan nikahnya?”, “kira kira tujuh bulan lagi, kenapa? Dag dig dug hati Viona menunggu pertanyaan berikutnya. “Gaak tanya aja, kata Windi kamu tuh punya gebetan di kantor, aku kenal gak?” “Duuuh si Windi rese’ ngapain sih dia bilang-bilang tentang Dion” “He he ada deeeh” Viona mengelak menjawab dan mengalihkan, “Eh loe tuh yang bener lagi deketin Aneke atau Windi sih? jangan dua duanya loh! kasian tau anak orang!”. “Nah itu dia Vion, aku malah penasaran sama kamu.. kamu tuh mirip sama mantanku, manis, peka sama orang lain” jawab Wirya lempeng tedeng aling-aling. “Rese’ loe! Bikin geer orang aja..!” “Eeh beneran.. hayoo bimbang kan?” goda Wirya lagi membuat Viona diam diam tersipu. Seperti sudah lama kenal, Wirya dan Viona asik ngobrol cukup lama.

Keesokan paginya, ada energy yang berusaha ditutupi oleh Viona terhadap Windi dan Aneke. Viona menyadari dia tidak menyukai Wirya, tetapi tidak munafik dia suka pujian yang disampaikan oleh Wirya kepadanya. Tiba-tiba Windi datang ke ruangan Viona dengan tampang bête dan seperti biasa dia yang terbuka, langsung pada point nya, “Dia suka sama kamu tuh!” “Apaan?” Vion berpura tidak mengerti. “Kemaren dia nelponan sama kamu kan?” Tanya Windi tak meminta jawaban “hari ini dia ultah, aku mau ucapin tapi katanya nanti aja kalau udah ketemu sama Vion!”. “Duh gak gitu juga.. kamu salah ngerti deh Wind”. “Inget ya Vion, loe tuh udah mau married dan loe juga yang ngelarang gue deketin Wirya karena tidak mau nyakitin Aneke! Sekarang apa yang loe perbuat? “Denger yaa Wind, betul dia nelp gue, betul juga dia charming dan menarik perhatian gue, tapi gue gak menyatakan apapun sama dia! Suer! Dan selama nelponan sama dia yang terbayang tuh muka kalian berdua, sumpah deh..” “Yaa udah beruntung kamu disukain sama dia” Udah ah males bahas dia dan gue cabut dulu..” Windi pergi membawa tas nya, itu artinya dia butuh ruang untuk menetralisir keadaan. Tapi Viona yakin Windi mengerti dengan penjelasan yang dia berikan.

“Sepi aja nih? Aneke mampir ke ruangan Viona sambil menggelar sajadah akan sholat dzuhur.  Viona melanjutkan kerja sambil fikirannya kesana kemari. Setelah Aneke selesai sholat rencananya Viona akan menceritakan semuanya dengan detil. “Vion, aku sedih deh.. gak ngerti kenapa Windi kok sikapnya gitu ya… padahal kan dia tau aku suka banget sama Wirya. Hari ini Wirya ultah, aku kasih dia dua buah coklat silverqueen diikat pita tapi gak tau deh dia suka atau tidak, gimana yaa cari taunya?” “Hmm gimana ya? coba tanya aja langsung ke dia” jawab Viona sambil mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Aneke. “Gitu ya.. tapi kayanya Windi sudah menempati tempatku duluan deh ..” jawab Anneke dengan bête.

“Duh apa jadinya kalau Aneke tau apa yang terjadi antara aku dan Wirya, gumam Viona dalam hati”

Viona berusaha mencari Wirya ke ruangan kerjanya di lantai tiga. “tok tok tok, Hi Bos, boleh aku bicara?” ijin Viona. “Hi cantik, yuk masuk aja..” Wirya menyambut dengan senyuman. “Langsung aja ya, gue gak mau persahabatan gue, Windi dan Anneke bubar gara-gara loe. Jadi tolong stop untuk charming dan lagian loe kok tega sih udah tau kita bertiga sahabatan, satu-satu loe gebetin! “hey hey.. come on.. siapa juga yang gebetin kalian? Aku coba baik aja sama kalian..kalaupun Windi dan Aneke ada perasaan bukan salah gue dong!” Iiygh nih cowok ga punya perasaan .. Viona sebel ninggalin ruangan itu sambil dalam hati sebagian membenarkan kalimatnya. Sementara Wirya berusaha memanggil Viona tapi diacuhkan. Sejak hari itu Viona, Windi dan Aneke makin jarang bertemu. Buku diary pun entah terakhir sama siapa.

Tiga bulan berlalu kantor ini semakin ramai, banyak penambahan karyawan baru. Salah satunya Pevita, gadis tionghoa yg baik dan ramah. Kebetulan dia seneng banget sama drama korea, jadi setiap harinya dia selalu bercerita detil dan update tentang artis korea dan film-filmnya, sehingga cukup menghibur Viona yang lumayan stress karena dua bulan kedepan akan melangsungkan pernikahannya. Semakin hari Vita seperti adik yang manis selalu mewarnai hari-hari Viona dan seperti adik ke kakaknya suatu hari dia curhat tentang kekasihnya. “Kak, aku lagi bingung nih.. kemaren aku ditegur sama ibu Kos ku” “Lho kok bisa? Kenapa? Jangan-jangan kamu play film korea mulu jadi ibu kos mati listriknya yaa? He he canda Viona. “Bukaan, ituu gara gara cowokku main ke kos an, kemaren aku kan sakit Kak, jadi dia anter paket makanan McD kesukaanku, karena kebawa suasana dan pokoknya korea banget gituu .. aku kissing sama dia ketangkep sama ibu Kos he he..” “Waduuuh anak nakal! Nekad deh.. lagian cowokmu kok berani bener” Viona terkaget sambil terus menginterogasi Pevita lebih lanjut “yaa, dia tuh tapi beda keyakinan sama aku, padahal dia salah satu cowok yang dewasa aku kenal dan aku suka banget Kak!” Minggu lalu dia beri harapan Kak.. dia bilang ingin belajar Kitab, aku bawain dan katanya dia mau aku ngajarin dia. Besok kita janjian di depan butik Alure, seberang kantor kita Kak, tutur Pevita sambil tersenyum manis bahagia. “Hmm.. suatu saat kenalin ke aku ya.. kata Viona sambil menutup ruangannya kemudian keduanya bersiap pulang, Pevita terus melanjutkan curhatnya, mengiringi langkah mereka yang sangat pelan sesuai irama hati Pevita.

Keesokan harinya, Pevita pagi-pagi sudah hadir depan ruangan kerja Viona. “Duuh mukamu kok jelek banget sayang…” sapa Viona ke Pevita yakin pasti lagi bête. “Aku bingung dan shock nih Kak.. inget kan kemaren aku janjian sama cowokku di butik Alure?” yaa gak suskses ya? Tanya Viona sambil melirik Pevita disampingya sementara Viona menyalakan komputernya.”Sukses banget…!” “Lho.. tapi kenapa muram? Aneh deh kamu.. harusnya seger dong..!””Iyaa kak, dia minta ajarin Kitab kaan.. aku masuk ke mobilnya, tapi dia ajarin aku banyak hal…””Haahh? Viona menghentikan kegiatannya dan menatap Pevita serius, jangan bilang kamu..””gaak gaak sejauh itu Kakak…”jelas Pevita. “Dia hanya memeluk tetapi sebagian kemejanya dibuka, sehingga bulu dadanya nyata terlihat membuatku shock, seperti Byong Jun actor kesukaan ku itu lho Kak, jadi semaleman aku kebayang dan kurang tidur!””haduuugh jantungan deh kalo ngobrol sama anak ABG kaya kamu!” Viona mengacak rambut Pevita gemes. “Nanti siang aku kenalin kamu ya Kakakku..peluk Pevita bangga”

Jam 12 waktunya makan siang tiba, sesuai janji Pevita, dia menarik tangan Viona tidak sabar, “ya ya ya.. aku ambil dompetku dulu darling” senyum Viona semangat penasaran. Mereka menuju ke kantin, melewati ruang Aneke, tapi ditengok Aneke sudah pergi makan siang pastinya. Sesampai di kantin betul saja pria kekasih Pevita sudah duduk menghadap view taman, baru punggungnya saja yang terlihat dan rambutnya setengah lurus, sebagian tertutup topi. Pevita memeluknya dari belakang “hi sayang, sudah lama ya?” saat itu Viona membayangkan suatu saat dirinya akan seperti itu ke Pak Dosen, bisa kah?, “Kak Vion, kenalin ini cowokku… kebanggaanku” sapa Pevita membuyarkan lamunan Viona yang menatap kea rah taman. “Wirya” Jreng.. Jreng…. “Astaga”, setengah berteriak, Viona kaget bukan maen, dia tidak menyangka bahwa kekasih Pevita adalah Wirya, cowok jawa yang matanya bulat, manis, tidak ada korea-koreanya ampuunnn, Gila rasanya bukan maen Viona sangat membenci cowok itu! Namun demi menjaga perasaan Pevita, Viona Cuma menjawab, “Yaa ampun neng, ini sih aku juga udah kenal!” “Oh ya, bagus dong” pevita semangat. Spontan saja makan siang hari itu adalah yang paling tidak sukses selama Viona kerja disitu.

Tidak sabar Viona rasanya ingin bertemu Windi dan Aneke untuk meledakkan apa yang baru saja dia ketahui tentang Wirya! Sore ini mereka janji bertemu di Pizza Hut. Seperti biasa Aneke yg well organize sudah tiba lebih awal, Windi sedang dalam perjalanan dan Viona beberapa menit lagi sampai. “Hi…Cantik, duuh kaya ga sekantor deh .. jalan duluan mampir jemput kek!” Viona menyalami Aneke cupika cupiki, tidak lama si periang Windi hadir, “hayooo ngomongin gue yaa”… “iiigh ge-er!” jawab Viona dan Aneke bersamaan. Sambil menunggu pesanan paket pizza, Viona mulai bercerita sedetildetilnya. “Gilaa ya cowok itu, heraan ga ada kapoknya ngerjain perasaan orang” jawab Windi. “Udah gak heran deh, emang anak mami dan manja gitu .. gak pernah mikir kalie” timpal Aneke. “Duuh kamu harus ingetin temen kecilmu itu deh, siapa namanya?” Tanya Aneke ke Viona, “Pevita, yaa aku lagi cari cara buat kasih tau ke dia, takut terlanjur yaa”. Ketiganya bercengkrama hangat, tidak ada lagi rasa dendam .. amarah.. semuanya menguap saling memaklumi dan memaafkan dengan hati. Pernikahan Viona sudah depan mata, Viona meminta Windi dan Aneke menjadi pendamping dalam pernikahannya. Tentu saja kedua sahabat itu menyanggupinya. Akhir dari pertemuan yang membuat sedikit muram hanya cerita Aneke yang berniat resign karena merasa dia ingin kembali ke dunia penyiaran yang dia cintai, sedih tidak akan sekantor lagi, tapi demi kemajuannya Vion dan Windi menyemangatinya. Sementara Windi sudah mulai aktif lagi melanjutkan kuliah dan sepertinya dia mulai membangun hubungan yang serius dengan teman lamanya saat sekolah dulu.

Dua bulan berlalu .. bunga sepanjang jalan bersemi.. indah mewarnai hari bahagia Viona.

Pagi itu dengan gaun pengantin putih nan suci, Viona berjalan menuju aula pernikahan didampingi oleh Windi dan Aneke yang tidak kalah cantiknya dalam balutan kebaya gold memancarkan aura persahabatan yang kental. Dalam waktu 15 menit Viona sudah menyadang status “Nyonya Dosen” Windi dan Aneke mengucapkan selamat dan memeluknya erat bergantian. “Thanks yaa.. kalian sesuatu yang berharga, menguatkan aku sehingga sampai dalam tahap hari ini” “yaa… semoga kita bisa nyusul cepet yaa” senyum Windi dan Aneke riang dan haru menjadi satu.

Dua tahun kemudian Windi dipinang oleh teman lamanya itu dan Aneke sudah menemukan calonnya melalui udara… Kekuatan do’a terangkai dalam tiga hati, semoga persahabatan ini akan dikenang selalu walaupun ketiganya sudah terpisah dengan keluarga masing-masing namun hati mereka selalu bersatu.

“Tuhan selalu memberi cara agar umatnya belajar dan dewasa”

-v3-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s