Michiko Finding Sakura

Michiko anak yang terlahir dari darah seorang Jepang, expatriat di Indonesia. Tinggal dikawasan elite selatan Jakarta Raya, kesehariannya ditemani ibunda tersayang berdarah sunda.

Kata orang, wanita sunda cantik dan sabar, semoga memang kebanyakan demikian. Ini tidak bermaksud mengangkat suku tertentu ataupun menebalkan anggapan masyarakat yang terlalu memojokan terhadap wanita sunda. Tetapi pada kisah ini bisa terbayang anak yang terlahir dari perpaduan jepang dan sunda, kulit putih, mata sipit, rambut terurai jatuh bersinar, diterpa angin badai sekalipun tidak akan terkoyak, kembali rapih sesuai tatanannya. Cantiknya Michiko sedari kecil sudah terlihat.

Michiko mewarisi darah ayahnya yang pintar, dia cukup cerdik di usianya. Pergaulannya selama di Internasional School membawa dia menjadi gadis cilik yang menguasai 5 bahasa, 6 termasuk bahasa sunda.

Seperti kebanyakan ekspat yang terpaksa nikah di Indonesia demi menunjang kariernya, sang Ayah menjadi seorang mu’alaf yang tekun, entah karena memang sudah paham dan mendapat hidayah atau karena kondisi sudah tua dan sadar akan hitungan usia. Walaupun 25 tahun jarak usia antara ayah dan ibunya, keharmonisan rumah tangga mereka terlihat sempurna dimata keluarga.

Sampai suatu hari Michiko terlihat murung, tidak seperti biasanya, apakah dia sedang sakit?

Pagi itu kubuka gerbang berlogam kuat dan tinggi menjulang, tanpa satpam, kumasuki area yang hening tak menunjukan tanda kehidupan. “Helloww.. anybody home?” Terlihat semua ruang tak teratur, tumpahan coklat yang sudah mengering di ruang bermain, gelas dan piring yang kering karena proses penguapan, gelap, sunyi .. tetapi semakin dalam kuberjalan dalam kemegahan ruangan, sayup terdengar suara tangis.. “heyy.. sayang apa yang kamu lakukan dibawah situ?” kudapati Michiko bersembunyi dibawah tempat tidurnya. Terlihat wajahnya sangat takut dan kesedihan mendalam. “sini sayang..” kuraih dan kudekap dia, kemudian pecah tangisnya.. Penasaran dimana ibunya? ku ajak Michiko menunjukan dimana ibundanya .. belum lagi terlihat, sudah terdengar suara mobil menderu masuk ke areal parkir rumahnya, beats musik terdengar kencang disertai tawa riang dan mesra dua orang yang kasmaran dalam kebisuan.

Degub jantungku seketika melonjak cepat, aku tak menyangka apa yang kulihat jauh dari bayangan. Sejenak panik, aku tidak mau disalahkan karena menyaksiakan gejolak cinta dari dua orang pendosa. Kuberlari kembali ke kamar bersama Michiko, kupeluk erat dia, dan tanpa disadari dia tertidur, pastinya dia sangat lelah menangis ketakutan.

“Eeeh ada tamu tak diundang!” sapa Ibunda Michiko dengan sinis saat mendapati aku di kamar anaknya. Terasa ada kekhawatiran dalam suaranya. “Hi tante, maaf saya tadi mampir memastikan Michiko baik-baik saja, karena sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, dan saya minta maaf karena masuk begitu saja”

“Ya.. ya.. Michiko memang sudah bosan disekolah itu, besok dia akan out dan pindah sekolah!, jadi please kamu info ke sekolahnya dan jangan cari tahu lagi bagaimana kondisi anak saya!. Saya ibunya dan saya tahu persis bagaimana merawat dan mengarahkannya”

Sindiran ibunda Michiko untuk memintaku keluar segera dari rumahnya kutangkap dengan baik, aku berpamitan dan meninggalkan rasa kesedihan mendalam untuk Michiko. Aku bingung, tidak bisa berbuat apa-apa, posisiku yang hanya sebagai freelance pendamping anak-anak disekolah itu merasa tidak punya power untuk membawa Michiko dan membebaskannya.

Keesokan harinya betul saja Michiko tidak hadir lagi di sekolah, dia memang masih kelas 3 SD tetapi kasihan juga kalau tertinggal banyak pelajarannya. Aku menghadap kepada petinggi di sekolah itu, tanpa basa-basi kepala sekolah dan para guru sudah tahu bahwa Michiko berhenti bersekolah disitu. Oogh anak yang malang, ingin rasanya aku terbang dan membawanya pergi jauh .. “semoga Allah melindungimu Michiko ku yang cantik”

10 tahun kemudian, aku sedang menghadiri acara reuni SMA di salah satu gedung modern kawasan Sudirman. Bertemu teman lama membuat kita larut, tanpa disadari waktu sudah berjalan sampai dini hari, terlanjur kuteruskan saja dengan niatan akan kembali ke apartemenku sesaat setelah adzan subuh tiba. “ha ha ha.. pangeran tolol! princess bodoh!, enak aja loe kira hidup gue bisa dibeli, padahal loe musuh dalam selimut … ha ha ha” suara mabuk dari seorang gadis yang bergelayut di pundak om-om berwajah nakal. Kasian dia.. pasti keluarganya tidak perduli atau dia memang anak yatim piatu dari keluarga kaya “gumamku dalam hati”, anak seusia lulusan SMU sudah bergaul dengan laki-laki separuh baya.. sangat disayangkan ..

Jantungku tiba-tiba berhenti berdetak, setengah berteriak kusapa gadis itu “Michiikoo” kumengenali tanda lahir di bahunya… “Heeyy kamu sudah besar!”, dalam keadaan mabuk tangan Michiko menepisku “haduuuuhh siapa sih loe? ibu gue? gaak adaaa ibu gue udah jadi musuh gue”

Aku memohon pada Om yang menemaninya untuk membiarkan aku membawa Michiko, dengan alasan bahwa aku adalah sepupunya dan aku adalah anak dari seroang Jendral berpengaruh di kota ini.

Kuletakkan Michiko di tempat tidurku yang kebetulan sudah kutata dengan rapi sebelum pergi. Dia masih meracau, “Eeh loe tau gak, gue tuh cinta banget sama dia, tapi dia bodoh, memilih wanita yang lebih tua dari pada gue” Pangeran sesat, sekarang dia ninggalin gue, selamanya”

Kutatap wajah cantiknya yang lelah, Michiko tertidur, kulanjutkan jemput fajar shubuh dengan memasak sup dan minuman hangat untuk Michiko. Entah kenapa aku mudah sekali tersentuh terhadap anak ini, tak terbayang olehku anak yang sangat beruntung dengan segala fasilitas yang dia punya, terpuruk dalam kondisi yang dibuat orang tua.

“Selamat pagi Michiko, Bagaimana sudah lebih baik?” Michiko terkaget dan memperhatikan aku dengan waspada, kemudian dia menatap sekeliling rumahku dengan heran. “Aku pernah mengenalmu kan?” Kata Michiko singkat. alhamdulillah dia mengingatku. Tiba-tiba saja dia menangis dalam dan seperti menemukan pundak yang selama ini dia butuhkan. “Tenang sayang, kau bisa menceritakan apapun, kau berhak untuk itu” sambil kupeluk dia terus menangis sesegukan.

“Aku mencintai kekasih ibuku”. Whats? kagetku dalam hati. Kubiarkan dia melanjutkan curhatannya. “Kau ingat laki-laki yang merebut ibu dari Ayahku?” dia sekarang sudah mati. “Jadi Ibu dan Ayahmu?” ayahku sudah lama kembali ke tanah airnya, ibu sengaja menahanku untuk tetap bisa hidup dengan kucuran uang dari ayahku”. Lalu ibumu menikah lagi?

“Hmm..Maria, laki-laki itu berparasit, menumpang hidup pada ibuku. Tapi aku mencintainya ..” “Yaa kau memang anak baik, kau tetap menghormati dan mencintai laki-laki itu, walaupun dia yang membuat ayahmu pergi kan..” “Kau tidak mengerti Maria, dia selalu memberiku uang, dia memberi aku hiburan dikamar atas, kamar favorit ku. Saat itu aku harusnya kelas 6, tepatnya tiga tahun sejak kita berpisah Maria..”

“Awalnya aku takut, perlahan-lahan dia melucuti pakaianku, tiap jengkal jarinya menelusuri seluruh tubuhku, kupasrahkan kegadisanku untuk dia Maria, setelah itu dia memberiku uang yang banyak, uang dari Ayahku yang sebetulnya diberikan untukku melalui Ibu. Aku tidak mampu lagi berteriak Maria, terlalu takut dan sakit sekali rasanya. Dosa indah itu rutin berlanjut Maria.. dia mendatangiku setiap kali ibu pergi menjemput uang ayahku”.

“Namun tak kusangka aku menikmatinya Maria, aku menanti dia mengendap ke kamarku, aku jatuh cinta dengan segenap hatiku. Hatiku akan terasa panas seketika jika ku dengar desah ibu dari kamar mereka, aku tidak rela lelaki itu meraih tangan ibu, aku tidak rela ibu menatapnya penuh cinta”

Seketika hening, Michiko terdiam menatap jauh ke awan melalui jendela kamarku. Kerongkongan ini terasa kering mendengar pengakuan gadisku yang malang. Ku bergerak mengambil secangkir hot coklat yang sudah kusiapkan, kuberikan kepada Michiko yang asik dalam lamunan.

“Hari itu, ibu sangat murka Maria.. kau tahu ibu memendamkan kepalaku kedalam bak mandi belakang rumah, berulang kali Maria.. sampai aku tidak bisa bernafas. Ibu melemparkan semua benda yang ada di dekatnya, berteriak dan menangis, dia adalah saksi kisah cinta terlarangku, kelalaian karena aku terlarut dalam buaian .. seharusnya hari itu ibu pergi mencari Ayahku, tetapi malangnya Ayah terlalu lelah dan kembali pulang ke negaranya, tanpa meninggalkan jejak ataupun wasiat pada ibuku. Aku yakin dia sangat syok melihat paparan pakaian diantara sela pintu kamarku”

“Sejak itu ibu membawaku pergi kesuatu tempat terpencil Maria.. Aku sangat sedih berpisah dengan kekasihku.. hatiku berteriak tapi bibir ini tertutup sangat rapat. Malam-malam kujalani dengan rasa kesepian Maria.. hampir gila rasanya.. Sementara ibu mulai mencari koneksi bagaimana dia bisa menyambung hidupnya bersamaku. Wajahnya yang masih cantik menutupi angka usianya membuat ibu dengan mudah mendapatkan tempat dihati para lelaki tua yang uang serinya tidak berangka. Ibu mulai merasa tenang, masalahnya denganku menguap begitu saja, sikap ibu biasa saja, sepertinya ibu berusaha amnesia. Merasa aku sudah besar, ibu pergi bersama pujaan barunya, meninggalkanku tanpa kabar berita”

“Aku pergi mencari kekasihku, berhasil menemukannya seperti gejolak air yang mendidih berhamburan, kita melakukannya lagi Maria.. dengan suka rela dan penuh cinta. Kutemui dia berkala .. sampai suatu saat kudapati dia dibawa para aparat .. kenapa? apakah ibu telah melaporkan perbuatannya? kuselidiki dalam tangis .. ternyata dia ditangkap karena telah bermain dengan wanita kaya lainnya, sementara suami dari wanita kaya itu tidak rela”

“Entahlah aku harus marah atau meratapinya, tetapi yang jelas aku tidak bisa lagi bertemu dengannya… terakhir kudengar dia mati tertembak Maria.. dia berusaha kabur dari penjara, dia tersiksa dengan perlakuan para aparat untuk melayaninya .. terakahir kudengar kabar itu dari seorang aparat yang sengaja aku pacari untuk mendekati kekasihku”

Pipiku terasa basah, tangisku perlahan jatuh selama mendengar pengakuan Michiko. Kupeluk dia erat setelah dia selesai mengeluarkan semua kegalauannya. Kuberbisik “Sekarang kau sudah aman anakku, aku bisa membantumu untuk kembali ke negeri sakura”

“Kau berhak untuk bahagia Michiko .. dosa indah yang kau rasakan adalah bukti dari kelalaian manusia .. ”

-fietiara-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s